RSUD PANGLIMA SEBAYA
"Melayani dengan Ramah, Santun dan Senyum"
Menu
Hari Hepatitis Sedunia 2026
Hepatitis: Kenali, Cegah, Periksa, dan Obati
Oleh: dr. Martha Novita Handayani, Sp.P.K
“Hepatitis tidak selalu menimbulkan gejala, tetapi dapat menyebabkan kerusakan hati yang serius jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan baik. Let’s break it down.”
Setiap tanggal 28 Juli, dunia memperingati Hari Hepatitis Sedunia (World Hepatitis Day). Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa hepatitis masih menjadi masalah kesehatan global. Diperkirakan jutaan orang hidup dengan hepatitis B atau hepatitis C tanpa menyadarinya karena penyakit ini sering berkembang secara perlahan tanpa gejala.
Kabar baiknya, hepatitis dapat dicegah, dideteksi lebih awal, dan sebagian jenisnya dapat diobati bahkan disembuhkan. Oleh karena itu, mengenali penyakit ini merupakan langkah awal untuk melindungi diri dan keluarga.
Apa itu hepatitis?
Hepatitis adalah peradangan pada hati (liver), organ yang berperan penting dalam menyaring racun, membantu pencernaan, mengolah obat, menyimpan energi, dan menghasilkan berbagai protein yang dibutuhkan tubuh. Peradangan hati dapat disebabkan oleh infeksi virus hepatitis (A, B, C, D, dan E), konsumsi alkohol berlebihan, efek samping obat atau zat tertentu, penyakit autoimun, maupun perlemakan hati (fatty liver). Di Indonesia, hepatitis B dan hepatitis C menjadi perhatian utama karena dapat berkembang menjadi penyakit kronis yang berisiko menyebabkan sirosis dan kanker hati apabila tidak terdeteksi serta ditangani sejak dini.
Mengenal jenis-jenis hepatitis
Hepatitis terdiri atas beberapa jenis yang dibedakan berdasarkan penyebabnya. Hepatitis akibat infeksi virus meliputi hepatitis A, B, C, D, dan E. Hepatitis A umumnya ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi virus dan biasanya bersifat akut serta dapat sembuh sendiri sepenuhnya tanpa menimbulkan kerusakan hati jangka panjang. Hepatitis B menular melalui darah dan cairan tubuh, seperti hubungan seksual yang tidak aman, penggunaan jarum suntik bersama, atau dari ibu ke bayi saat persalinan. Infeksi hepatitis B dapat berkembang menjadi penyakit kronis dan meningkatkan risiko sirosis maupun kanker hati. Hepatitis C terutama menular melalui kontak dengan darah yang terinfeksi. Penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga banyak penderita tidak menyadari dirinya terinfeksi. Hepatitis D hanya dapat terjadi pada orang yang telah terinfeksi hepatitis B, sedangkan hepatitis E umumnya ditularkan melalui makanan atau air yang tercemar, terutama di daerah dengan sanitasi yang kurang baik.
Selain infeksi virus, hepatitis juga dapat disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan yang dapat merusak sel-sel hati, efek samping obat atau zat tertentu yang bersifat toksik terhadap hati, penyakit autoimun ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang organ hati, serta perlemakan hati (fatty liver) yang umumnya berkaitan dengan obesitas, diabetes, atau gaya hidup yang kurang sehat. Berbeda dengan hepatitis akibat virus, jenis hepatitis ini tidak menular dari satu orang ke orang lain, namun tetap memerlukan penanganan dan perubahan gaya hidup agar tidak berkembang menjadi kerusakan hati yang lebih berat.
Apa saja gejala hepatitis?
Gejala hepatitis dapat bervariasi, mulai dari mudah lelah, demam, mual dan muntah, nafsu makan menurun, hingga nyeri pada perut kanan atas. Pada beberapa penderita juga dapat ditemukan mata dan kulit menguning (ikterus), urin berwarna gelap seperti teh, serta feses yang berwarna pucat. Pada hepatitis yang bukan disebabkan oleh virus, seperti akibat alkohol, obat-obatan, atau perlemakan hati, gejala dapat berkembang perlahan dan sering kali hanya berupa mudah lelah, rasa tidak nyaman di perut kanan atas, atau bahkan tidak bergejala pada tahap awal. Namun, perlu diketahui bahwa hepatitis B dan hepatitis C juga sering kali tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun, sehingga banyak penderita baru mengetahui penyakitnya setelah terjadi kerusakan hati. Oleh karena itu, pemeriksaan dini sangat penting, terutama bagi individu yang memiliki faktor risiko.
Siapa yang berisiko terkena hepatitis?
Hepatitis dapat menyerang siapa saja, tetapi risikonya lebih tinggi pada bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B, tenaga kesehatan yang sering terpapar darah atau cairan tubuh, pengguna narkoba suntik, serta orang yang melakukan hubungan seksual berisiko tanpa pengaman. Risiko juga meningkat pada penerima transfusi darah sebelum sistem skrining modern diterapkan, orang yang tinggal serumah dengan penderita hepatitis B, dan pasien yang menjalani hemodialisis. Oleh karena itu, kelompok berisiko dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan dan deteksi dini sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Bagaimana cara mencegah hepatitis?
Pencegahan merupakan langkah terbaik untuk melindungi diri dari hepatitis. Upaya yang dapat dilakukan antara lain melengkapi vaksinasi hepatitis B, menerapkan perilaku hidup bersih seperti mencuci tangan dengan sabun dan mengonsumsi makanan serta minuman yang bersih, menghindari penggunaan jarum suntik, sikat gigi, atau alat cukur secara bergantian, serta memastikan alat medis, tato, dan tindik dalam kondisi steril. Selain itu, menjalani hubungan seksual yang aman juga dapat membantu mengurangi risiko penularan hepatitis. Melakukan pemeriksaan kehamilan sesuai anjuran dokter juga penting dilakuan sebagai salah satu cara mencegah penyakit ini.
Untuk mencegah hepatitis yang bukan disebabkan oleh virus, penting untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti membatasi atau menghindari konsumsi alkohol, menggunakan obat-obatan sesuai anjuran dokter, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, serta mengendalikan penyakit seperti diabetes dan kolesterol tinggi yang dapat meningkatkan risiko perlemakan hati. Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, kesehatan hati dapat tetap terjaga dan risiko terjadinya hepatitis maupun kerusakan hati dapat diminimalkan.
Apakah hepatitis dapat disembuhkan?
Kemungkinan kesembuhan hepatitis bergantung pada jenisnya. Hepatitis A umumnya dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan khusus. Hepatitis B memang belum dapat disembuhkan sepenuhnya, namun dapat dikendalikan dengan terapi yang tepat sehingga risiko kerusakan hati dapat diminimalkan. Sementara itu, hepatitis C saat ini memiliki pengobatan yang sangat efektif, sehingga sebagian besar pasien dapat sembuh setelah menjalani terapi sesuai anjuran dokter. ementara itu, hepatitis yang disebabkan oleh alkohol, obat-obatan, penyakit autoimun, atau perlemakan hati dapat membaik apabila penyebabnya diatasi, seperti menghentikan konsumsi alkohol, menghindari obat yang memicu kerusakan hati, mengendalikan penyakit autoimun dengan terapi yang sesuai, serta menerapkan pola hidup sehat untuk mengatasi perlemakan hati. Deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah kerusakan hati yang lebih berat.
Kapan harus memeriksakan diri?
Segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan apabila mengalami mata atau kulit menguning, urin berwarna gelap, nyeri hebat pada perut kanan atas, mual dan muntah yang tidak membaik, atau tubuh terasa sangat lemas. Pemeriksaan juga dianjurkan bagi orang yang memiliki riwayat kontak dengan penderita hepatitis atau faktor risiko lainnya, meskipun belum merasakan gejala. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti sirosis dan kanker hati. Untuk menegakkan diagnosis, dokter dapat menyarankan beberapa pemeriksaan, seperti tes fungsi hati (SGOT dan SGPT), pemeriksaan HBsAg untuk hepatitis B, Anti-HCV untuk hepatitis C, pemeriksaan lanjutan seperti HBV DNA atau HCV RNA bila diperlukan, serta USG hati sesuai indikasi.
Pesan Dokter
“Hepatitis sering datang tanpa gejala, sehingga banyak orang baru mengetahui saat penyakit sudah lanjut. Jangan menunggu muncul keluhan. Lindungi diri dan keluarga dengan vaksinasi, perilaku hidup bersih dan sehat, serta lakukan pemeriksaan apabila memiliki faktor risiko. Deteksi dini dapat menyelamatkan fungsi hati dan meningkatkan kualitas hidup.”
Referensi
WhatsApp us